Mencari Pemimpin Yang Bijaksana


Mencari Pemimpin Yang Bijaksana - Banyak yang menyatakan bahwa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensional. Namun, bila dicermati sejatinya krisis tersebut hanya berpusat pada satu hal: krisis kepemimpinan.

Padahal,sebagaimana diketahui, pemimpin merupakan ujung tombak sebuah organisasi, besar atau kecil. Pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan bijaksana dalam mengambil keputusan memiliki peluang lebih besar untuk memajukan organisasinya ketimbang pemimpin yang hanya sibuk mengurusi kepentingan sendiri maupun golongannya. Dengan kata lain, baik-buruknya seorang pemimpin sangat menentukan laju roda organisasi yang dipimpinnya. Secara definitif, pemimpin merupakan pribadi yang memiliki kecakapan/kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu memengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994).

Dalam konteks bernegara, seorang pemimpin haruslah sosok yang mampu mengejawantahkan gara. Memang, tidaklah mudah menjadi sosok pemimpin yang benar-benar mampu mengayomi yang dipimpinnya,terlebih dalam dunia politik,meski hal demikian tidaklah mustahil.

Akan tetapi, bukankah setiap manusia pada dasarnya merupakan pemimpin, minimal bagi diri sendiri, sehingga siapa pun pada prinsipnya harus belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana? Itulah yang ingin ditunjukkan dalam buku setebal dua ratus delapan halaman ini.

Sebagaimana tertera pada judulnya, Be A Great Leader, buku ini memuat 42 inspirasi singkat dari Erwin Tenggono, penulisnya, untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak dalam segala bidang.Karena bukankah pada prinsipnya semua kepemimpinan memiliki benang merah yang sama: tanggung jawab?

Salah satu yang menarik adalah refleksi penggemar klub sepak bola Liverpool ini terhadap sosok konduktor orkestra. Menurut Erwin, seorang pemimpin harus banyak belajar dari seorang konduktor atau pemimpin orkestra. Saat pertunjukan dimulai, seorang konduktor harus tampil di depan, dengan jarak tertentu, menghadap seluruh anggota timnya agar bisa memimpin pertunjukan.

Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus selalu tampil di depan untuk bertindak dan menyampaikan visi serta mengambil tanggung jawab atas hasil kerja anggotanya (halaman 58). Pemimpin orkestra juga berdiri sendiri dengan jarak tertentu dari anggota orkestra dan penonton.

Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin kadang kala harus berdiri di antara pilihan dan ia harus mengambil suatu sikap atau keputusan di antara pilihan yang ada. Saat akan memulai orkestra, konduktor harus membelakangi penonton, untuk kemudian memimpin pertunjukan orkestra.

Maknanya adalah seorang pemimpin harus mampapa yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai tujuan dari berbangsa dan berneu menatap seluruh anggotanya, membangun kesatuan hati dan jiwa dalam menghayati kesatuan ketukan dan irama agar menghasilkan alunan suara yang kompak, harmonis, dan indah didengar.

Salah satunya adalah Servant Leadership karya Robert K Greenleaf. Buku ini memuat salah satu dari 42 inspirasi untuk menjadi pemimpin bijak yang terdapat dalam buku ini. Menurutnya, ketika ingin melayani, membantu, bertanggung jawab secara moral, dan menilai setiap pekerjaan adalah mulia dan baik, maka tidak satu pun pekerjaan yang rendah dan tidak pantas (halaman 187).

Ironisnya, yang kita miliki saat ini adalah tipe-tipe pemimpin yang meminta pelayanan. Yang paradigma berpikirnya masih I am the boss. Padahal, ketika merendahkan hati untuk melakukan suatu pekerjaan dan tampak tidak berarti, kita sebenarnya memerlukan hati yang besar untuk melakukannya.